Just another WordPress.com site

Latest

Kisah Anto dan Ibu kandungnya

Kisah Anto dan Ibu kandungnya

Aku terus yakin bahwa akan banyak sekali skandal seks para wanita di desa ini dengan memanfaatkan keberadaan Anto yang selain tidak bisa berbicara juga berotak mesum. Jika sedang ingin dan sedikit bernafsu aku suka membuntuti Anto pergi dan berharap akan terjadi adegan seks dirinya dengan para wanita kesepian di desaku. Tidak setiap hari aku membuntutinya dan terkadang sia-sia juga hasil pengintaianku yang tidak membuahkan hasil itu.

Pada suatu sore aku bermain di rumah Anto dan mendapati mbak Aminah, ibu Anto yang sedang memungut jemuran. Mbak Aminah lagi-lagi memakai daster pendek dan kali ini berwarna kuning yang membuat tubuhnya tidak menjemukan untuk dipandang. Aku semakin berpikiran jorok dan berniat sekali menyetubuhinya, namun apa kata orang nantinya melihat Gunawan anak lurah desa ini menyetubuhi isteri orang. Aku menyapa dirinya:

“Kok rumah sepi mbak…Suami mbak ke mana?”

“Eh mas Gun..wah bapaknya Anto balik ke jogja ada kerja ke sana..mungkin sebulan lagi balik ke sini”

“Terus Anto ke mana..sudah berhari-hari nggak main sama dia”.

“Itu mas di dalam lagi nonton tv, masuk aja mas”

“O ya mbak..”

Aku dapati Anto yang sedang menonton tivi di ruang tamu. Melihat kehadiranku dia langsung berlagak menyapaku dan mengajak mengobrol dengan gumamannya yang selalu membuatku ingin tertawa karena tidak ngerti apa yang diomonginnya. Karena ada acara bagus aku menonton televisi di rumah mbak Aminah tak terasa sudah sampai jam tujuh malam. Aku minta ijin untuk pamit ke mbak Aminah karena sudah malam dan semakin aku berlama-lama dengan mbak Amninah semakin aku tidak tahan berpikiran jorok tentangnya.

Ketika berjalan pulang aku bertemu dengan syaiful yang sedang menuju ke rumah budenya, bulik Marsih. Aku menanyainya mau pergi ke mana dan ia menjawab mau ke rumah budenya karena ingin tidur bermalam di rumahnya. Aku langsung berpikiran bahwa berarti di rumah mbak Aminah hanya ada Anto dan dirinya, jadi aku berharap sekali ada hubungan incest antara mereka. Pikiranku langsung sumringah dan setelah aku berpamitan ibuku dan minta ijin untuk bermalam di rumah temanku, aku langsung menuju kembali ke rumah Anto. Pada saat itu jam setengah sembilan malam dan pintu rumahnya masih terbuka. Anto tampak sedang bermalas-malasan di kursi depan rumahnya yang agak jauh darit teras. Dari dalam mbak Aminah terdengar sedang sibuk mencuci piring di dapur. Ini kesempatanku untuk mengendap masuk ke dalam dan berharap akan terjadi sesuatu skandal malam harinya nanti. Aku mengendap dari teras samping dan karena pandangan Anto mengarah ke jalan, maka dengan leluasa aku bisa masuk dan tidak terdengar olehnya karena biasanya orang bisu ada gangguan juga dengan pendengarannya. Aku langsung menyelinap masuk ke kamar mbak Anto dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya. Sambil menunggu mereka tertidur pulas aku bermain HP di kolong ranjang. Aku yakin sekali malam ini Anto pasti sedang bernafsu karena sudah beberapa hari ini aku tidak mendapatinya berbuat mesum, lagian suasana rumah juga sedang sepi. Setelah menunggu agak lama akhirnya rumah tampak remang-remang dan mbak Aminah sudah tidur.

Dari tadi menunggu aku tidak melihat Anto masuk kamar. Aku sedikit kecewa dan khawatir bahwa mungkin sudah dari tadi Anto tidur bersama di kamar ibunya. Aku mengendap ke ruang tamu dan ternyata mendapati Anto sedang menonton TV. Ia memakai kaos dan sarung sedang salah satu tangannya dimasukkan ke dalam sarungnya memain-mainkan kontolnya, dan aku yakin bahwa dia sangat bernafsu. Tak lama kemudian ia mematikan Tvnya dan bergegas menuju ke kamar mbak Aminah. Kamar mbak Aminah hanya tidak berpintu melainkan hanya ditutup dengan tirai. Ketika Anto sudah berada di dalam kamar aku segera mengendap menuju ke kamar itu. Sebelumnya terdengar suara yang sepertinya tidur mbak Aminah terusik dengan kehadiran Anto menyusulnya tidur. Ia bertanya kenapa dia tidak tidur sendiri di dalam kamarnya dan Anto hanya bergumam tidak jelas dan langsung saja tertidur di sebelah ibunya. Aku tak sabar dan langsung menyibak sedikit tirai pintu itu untuk bisa melihat aktivitas di dalam kamar.

Tangan Anto dari tadi terus berada di dalam sarung memainkan burungnya, sedang mbak Aminah tidur miring membelakangi Anto. Tak berapa lama kemudian anto memeluk tubuh ibunya itu dari belakang dan menggesekkan kontolnya ke pantat ibunya. Aku semakin berdebar saja melihat kelakuan anak itu. Mbak Aminah terlihat sudah tertidur dan ketika anaknya itu menyibak dasternya sampai terlihat celana dalam bunga-bunganya ia sentak kaget dan terbangun. Namun Antu malahan terus menekan pantat ibunya itu. Mbak Aminah memukul anaknya itu namun dan Anto kemudian menjauh takut. Anto terus merengek dan dari ekspresinya ia ingin memberitahu ibunya kalau dia sudah ingin bercinta dengan dirinya. Setelah terus mendesak dan memeluk akhirnya mbak Aminah hanya pasrah dan diam. Ia meneruskan tidurnya sedangkan anaknya itu terus menggerayangi tubuhnya dengan semakin leluasa. Saat Anto melepas sarungnya, batang penisnya sudah tegak menantang dan ia terus menggesekkan ke pantat ibunya yang masih terbalun dengan cawat bunga-bunga itu.

Anto semakin kurang ajar dan menyelipkan tangannya ke dalam cawat ibunya. Ia mencari-cari lubang puki mbak Aminah dan kemudian mengelus-elusnya sampai akhirnya ibu kandungnya itu menaruh respon atas permainan anaknya itu. Kemudian mbak Aminah memelorotkan celana dalamnya dan mengocok kontol Anto dengan matanya yang masih etrpejam namun ekspresi mukanya tampak menikmati. Anto langsung menghajar lubang puki ibunya dengan menindihnya dari atas. Mbak Aminah mengerang keenakan dan Anto semakin liar memompa ke dalam pukinya. Permainan berhenti sejenak karena mbak Aminah sudah terlanjur basah keenakan, maka ia melepas seluruh pakaiannya dan begitu juga dengan Anto. Mbak Aminah langsung nungging dan menyuruh Anto menghajarnya dengan gaya doggystyle. Tubuh kecil anto semakin liar dan tak terkendalikan menghajar tubuh seksi ibunya. Tak lama kemudian ia memuncratkan spermanya ke lubang puki ibunya. Ia mengerang keenakan disertai erangan mbak Aminah yang semakin banyak mengeluarkan cairan dari dalam vaginanya.

Aku mengintip dari luar sambil mengocok kontolku.  Tak berapa lama kemudian Anto kembali menindih tubuh ibunya yang sedang terlentang berbarik. Ia menjilati seluruh panyudara ibunya dan setelah puas langsung mendorog ibunya supaya tengkurup. Setelah tengkurup ia menyelipkan penisnya ke sela-sela pantat kenyal dan putih itu sampai akhirnya menembus lagi lubang pukinya. Ia bergerak naik turun dan etrus memompa dibarengi suara tepukan pantat yang membuatku tak tahan lagi memuncratkan spermaku ke lantai. Mbak Aminah hanya mengerang menikmati dengan posisinya yang telungkup dan akhirnya lubang pukinya kembali dipenuhi cairan sperma anaknya. Mereka terbaring lemas di ranjang dan masih tetap telanjang bulat sampai akhirnya tertidur. Perunjukan usai dan aku tetap tidak bisa pulang karena semua pintu sudah tertutup, aku hanya menunggu dan terus mengintip wtubuh indah mbak Aminah yang selalu kubayangkan telanjang dan sekarang benar-benar bugil di depan mataku. Aku semakin ingin sekali menyetubuhi mbak Aminah. Pikiranku sudah tidak bisa kutahan lagi sampai akhirnya terjadilah skandalku dengan mbak Aminah di malam itu juga, di depan mata anaknya sendiri. Kisah ini akan kuceritakan dalam episode selanjutnya.

Petualangan Anto si Bisu

Petualangan Anto si Bisu

Kumpulan cerita ini merupakan kumpulan investigasiku semenjak aku kelas tiga SLTP. Namaku gunawan dan aku tinggal di sebuah desa pinggiran kota karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Pada saat itu merupakan liburan panjang sehabis ujian akhir nasional kelas tiga SLTP. Aku berbulan-bulan tinggal di rumah dan hanya bergaul dengan tetangga-tetangga sebelah. Ketika itu kegiatanku hanya bermain-main saja di sekitar wilayah desa dan oleh karenanya aku menjadi semakin akrab dengan semua penduduk. Ketika aku bermain di rumah tetanggaku yang bernama bulik Marsih aku tidak sadar ternyata di rumahnya yang satu yang dulu sempat dikosongkan ternyata saat itu sudah berpenghuni. Setelah aku bertanya dengan bulik marsih ternyata rumah itu sudah dihuni oleh adiknya yang datang dari Jogja dan mulai saat itu menetap di desaku. Aku kemudian menyempatkan diri untuk mampir berkenalan dengan penghuni baru itu. Ternyata di depan rumahnya banyak sekali anak-anak bermain dan tampak dua anak wajah baru, dan ternyata adalah kedua anak dari warga baru itu. Semua anak tampak tertawa-tawa menggoda salah satu dari anak itu. Mereka tertawa kegirangan karena melihat anak itu yang ternyata bisu dengan gayanya yang nakal dan sok bisa bicara sehingga menggelikan sekali. Akupun langsung tertawa melihat tingkahnya.

Tak berapa lama kemudian tampak seorang pria berumur tiga puluh lima tahunan keluar dan menyapaku. Pria itu ternyata suami adik bulik Marsih. Lalu tak lama kemudian mbak Aminah adik bulik Marsih keluar dan menyapaku.

“Lho kok Mas Gunawan to….Sudah besar ya sekarang, kelas berapa mas?’

Banyak tetanggaku memanggilku mas biarpun mereka juga lebih dewasa dariku. Hal itu dikarenakan bapakku adalah seorang lurah jadi mereka memanggilku demikian mungkin sebagai bentuk rasa hormat mereka terhadap bapakku.

“Eh mbak Aminah.. iya ini, lama nggak ketemu mbak..ini sudah mau lulus SMP mbak” jawabku.

“ Itu anak mbak sama mas ya?” tanyaku.

“Iya mas…Ya sudah jatah dari yang kuasa mas…Yang besar itu malah tidak bisa ngomong sampai sekarang…Tapi ya saya syukuri saja mas”…jawab mbak Aminah dengan tetap tersenyum. Suaminya juga hanya ikut tersenyum.

Setelah aku perhatikan dari tadi ternyata mbak Aminah semakin seksi. Dia memakai daster merah tanpa lengan membuat tubuhnya terlihat semakin putih. Rambutnya terurai panjang lurus dengan porsi panyudara dan pantatnya yang benar-benar proporsional. Kemudian mereka mempersilakanku masuk namun aku menolak dan ingin ikut bermain saja dengan anak-anak. Mulai dari sinilah aku berkenalan dengan Anto, anak mbak Aminah yang bisu itu. Anto berumur kira-kira tiga belas tahun sepantaran adik kelasku. Dia memang usil dan nakal sekali, namun karena ia banyak menggumam banyak omong tidak jelas karena kebisuannya, itu membuatnya terlihat lucu sekali. Aku senang sekali berkenalan dengan Anto dan kerap sekali aku mengajaknya main ke rumahku buat obat stress. Aku juga sering menyuruhnya membantuku beres-beres rumah. Mulai dari sinilah aku mengenal sosok dirinya sebagai seorang anak yang berpikiran mesum. Ternyata di balik kebisuannya itu tersimpan pikiran mesum yang luar biasa.

Ketika itu saat anak-anak masih bersekolah Anto tidak ada teman main dan langsung menuju ke rumahku. Aku hanya tinggal dengan ibu, bapak dan tanteku kartika sedangkan dua kakak laki-lakiku sudah kerja merantau di Jakarta. Setelah aku kenalkan mereka dengan Anto, mereka tampak senang karena setiap gerak-geriknya membuat tertawa. Saat ibu memintaku untuk membersihkan kamar mandi, aku langsung mengajak Anto untuk ikut membantuku. Aku tidak berpikiran buruk apapun tentang anak itu namun setelah di kamar mandi tidak kusangka dtengah aku lagi menyikat kloset ia dengan tidak ada malunya terhadapku, sedang memain-mainkan celana dalam kotor milik tante kartika yang berada di ember cucian. Dia tampak senang sekali dan memain-mainkannya. Melihat itu aku langsung marahin dia namun dia hanya tampak biasa saja dan malahan tertawa. Aku berpikir kalau dia memang selain bisu, pikirannya juga tidak waras, namun namanya juga obat stress.

Setelah selesai bersih-bersih kami balik lagi menonton televisi. Tante Krtika sedang duduk membaca koran di ruang tamu persis sebelah kami menonton televisi. Sepintas aku amati pandangan Anto yang mencuri-curi mengintip celana dalam tante Kartika. Wah memang anak ini memang benar-benar berpikiran mesum. Tante kartika adalah janda dan berumur sepantaran ibu Anto, tubuhnya pun tidak kalah dengan mbak Aminah. Tante tinggal di rumahku karena dia tidak memiliki anak dan tidak mau tinggal sendirian di rumahnya di Jakarta setelah bercerai dengan suaminya. Aku terkadang juga berpikiran jorok dan berniat mengintip tante kalau sedang mandi namun sampai sekarang aku tidak berani melakukannya karena takut ketahuan dan malu dengan bapak ibuku. Tetapi dengan kehadiran Anto bisu yang berpikiran mesum ini, aku serasa memiliki rekan baru dalam berfantasi mesum karena saat melihatnya curi-curi kesempatan mengintip ada perasaan lain dalam hatiku. Aku tidak marah dengan tingkah Anto itu, malahan ketika aku membayangkan Anto bisa menyetubuhi tanteku itu aku malah semakin bernafsu. Aku sering beronani membayangkan bersetubuh dengan tanteku namun perasaan itu tidak senikmat ketika aku membayangkan Anto ngentotin tanteku. Demi untuk menjada imejku sebagai seorang anak lurah aku tidak boleh berbuat liar apalagi jika berurusan dengan seks dan nafsu birahi. Untung saja aku bertemu dengan sosok Anto yang memberikanku fantasi seks baru. Aku selalu optimis kalau anak itu urat malu dan sopan santunnya sudah putus, jadi mungkin sekali kalau ia bisa ngentot dengan orang dan aku bermimpi sekali untuk bisa mengintipnya langsung ngentot.

Setelah itu aku sedikit menjauh dari Anto dan jika ada kesempatan aku membuntutinya ke manapun dia pergi. Ketika itu keluargaku sepi dan hanya tanteku yang ada di rumah. Aku berencana membuktikan imajinasiku itu tentang kemungkinan bahwa akan ada wanita yang akan memanfaatkan Anto untuk memuaskan dirinya. Aku yakin tanteku butuh sekali seks dan dia tidak mungkin berbuat nakal karena akan sangat malu dengan ayah dan ibuku. Ketika itu aku pamit sama tante Kartika untuk main ke rumah temanku.

“Tante, aku mau main dulu ke tempat temanku ya…Aku mungkin pulang larut sore karena ada banyak hal yang mesti aku selesaikan dengan temanku”.

“Jangan terlalu malam Gun, aku sendiri ni”

Itu jawaban yang aku nantikan, sehingga aku bisa merancang skenario dan mendatangkan Anto untuk ke rumahku menemani tanteku. Aku yakin pasti tante bakalan menggerayangi Anto karena ia bakalan tidak mengadu karena bisu, dan lagian aku yakin kalau Anto malahan yang senang dikerjain mengingat otak mesumnya itu. Aku ingin sekali melihat dari langsung mereka ngentot dan aku akan bisa melihat tubuh bagian intim tante Kartika.

Lalu langsung saja kujawab. « suruh aja Anto si bisu itu temenin tante kalau aku pulang terlalu malam, lumayan bisa buat obat stress nanti tan..hehe »

« O yaudah kalau begitu… » jawab tante senyum.

Aku mengeluarkan motorlu dan berhenti tidak jauh dari desaku. Aku mampir ke sebuah bengkel milik tetangga yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Setelah kira-kira satu jam aku di sana aku minta diservisin motorku, padahal kedokku hanya ingin nitip motor dan kemudian pulang. Lalu aku pulang mengendap-endap dari belakan rumah. Aku bersembunyi di dapur dan mengintip segala apa yang terjadi di rumah. Tante ternyata sedang nonton video porno. Dia meremas-remas dadanya sendiri dan jarinya ia masukin ke dalam celana dalamnya. Rumah tertutup rapat dan tante dengan leluasa menonton video bokep itu di ruang tamu. Aku bernafsu sekali melihat pemandangan itu dan aku ingin sekali bersetubuh dengan tanteku. Namun itu hanya akan memperkeruh suasana dan lagian itu bukanlah rencanaku. Rencanaku hanya ingin berharap kalau Anto bisu benar-benar dipanggil tante dan dikerjainya sehingga aku bisa sambil menontonnya langsung sambil beronani. Tak berapa lama kemudian tante keluar rumah tanpa mematikan tontonan bokep itu. Aku yakin dia memanggil Anto, dan ternyata dugaanku benar. Ia datang bersama Anto dan segera mengunci rapat pintu. Anto ngomel-ngomel tidak jelas kegirangan melihat video itu. Aku juga kegirangan sekali melihat rancangan skenario imajinasiku itu yang ternyata menjadi kenyataan sebentar lagi.

Tanteku mengecek menyentuh celana anto di bagian depan bermaksud mengecek kontolnya. Ternyata baru melototin bokep sebentar kontol Anto sudah tegak menantang. Anto sepintas malu dan kemudian sedikit menutupinya dengan tangan. Tante langsung ambil tindakan. Dia langsung merenggangkan pahanya sehingga roknya tersibak, bermaksud memamerkan celana dalamnya. Anto langsung melotot kegirangan bercampur sok tengsin melihat itu dan jantungku berdebar keras. Aku langsung mengendap ke pintu sampingmenuju kamar di sebelah ruang tamu karena aku tidak begitu jelas melihat adegan itu. Setelah sampai di kamar sebelah aku benar-benar melihat dengan jelas adegan itu melalui celah-celah ventilasi. Tante membuka celana pendek Anto dan terlihat burung hitam Anto yang lumayan besar untuk anak seumurannya sudah tegak menantang. Tante langsung melumat kontolnya itu dan Anto menggeliat kenikmatan.

Setelah beberapa saat tante menyuruh Anto mlucuti semua pakaian tante. Tante menuntun tangan Anto menarik cawat merahnya dan dengan naluri nafsunya Anto langsung melucuti seluruh pakaian tante sampai tak ada benang sehelaipun menutupi. Benar-benar indah tubuh tanteku ini. Badanya yang sedikit chubby ini dan wajahnya yang ayu sekarang benar-benar terlihat telanjang di depan mataku. Kulitnya putih mulus, rambutnya panjang terurai dan pantatnya semok sekali serasa pengen kuremas. Aku semakin ingin mengocok kontolku. Tante membuka lebar pahanya dan Anto gemetaran melihat memek tante yang bersih tanpa ada bulunya itu. Ia menarik kepala Anto dan menyuruhnya menjilati memeknya itu dan setelahnya tante menggeliat kenikmatan. Banyak banget cairan yang keluar dari memeknya. Tante kurang berpengalaman untuk hal pemanasan dan variasi sex, yang ia tahu untuk anak seumurannya hanya pengin cepat-cepat menikmati tubuh wanita. Anto kemudian berontak dan langsung menindih tubuh tante sambil menusukkan kontolnya ke lubang basah puki tante. Tante kaget namun menikmati saja permainan kasar Anto itu. Takut kalau spermanya keluar di dalam, tante langsung mendorong tubuh kecil anto keluar. Ia langsung mengulum kontolnya dan tak berapa lama mulut tante dipenui sperma anto yang bermuncratan keluar. Anto tergeletak di kasur tipis di depan TV merasa keenakan.

Tante kemudian mengambil pelumas dan mengoleskannya ke penis anto dan juga lubang anusnya. Mungkin tante tidak bisa memberitahu Agar tidak mengeluarkan spermanya di dalam vaginanya. Maka dari itu tante mencoba anal saja. Anto kemudian disuruh memasukkan anusnya ke dalam anus tante dengan posisi doggy. Setelah sedikit kesusahan akhirnya masuk juga penisnya dan tante merasa sedikit kesakitan tapi Anto tidak peduli. Ia terus memompa dengan kencang dan dibarengi suara tepukan pantat tante yang membuatku jadi ingin ejakulasi juga. Jari-jari tante ikut masuk ke dalam lubang vagina dan setelah beberapa saat cairan memeknya bermuncratan keluar.Ia mengerang lirih takut kedengaran tetangga. Anto juga semakin liar menghajar burit tante sampai akhirnya ia menyemprotkan lagi spermanya di burit tante. Mereka terbaring puas di depan televisi sedangkan aku sibuk membersihkan spermaku yang bermuncratan di mana-mana melihat adegan itu. Tante kemudian menyuruh Anto pulang dan lalu menutup lagi pintu sambil senyum-senyum menuju ke kamar mandi membersihkan diri. Lagi-lagi pikiran menyetubuhi tanteku muncul lagi namu aku harus menghindarinya, lagian aku sudah puas melihatnya ngentot dan beronani sampai puas. Aku segera keluar rumah dan bergegas pergi ke bengkel lagi.

Kejadian itu berulang sekitar lima kali sampai saat tanteku kembali ke Jakarta melanjutkan kerjanya di sana kalau suasana rumah lagi sepi dan aku selalu merancang skenario yang sama. Aku terus membuntuti kisah seks Anto si bisu itu demi untuk fantasi langsungku karena untuk mewujudkannya serasa beban menanggung nama baik orang tua. Sampai ketika setelah tante pergi aku mendapati kisah seks Anto dengan beberapa wanita di desaku termasuk dengan ibunya sendiri, mbak Aminah. Cerita ini akan kuceritakan di episode selanjutnya….

Karena anjing, aku mendapatkan tubuh Bude Inem

Karena anjing, aku mendapatkan tubuh Bude Inem

Perkenalkan Namaku Pram dan inilah kisah nyataku ketika menyetubuhi seorang janda setengah tua yang terjadi sekitar lima tahun yang lalu. Aku hidup di perkampungan kecil di mana setiap rumah jaraknya masih agak berjauhan. Ketika itu aku berumur dua puluh tahun dan sedang berkuliah di sebuah kota jauh dari desaku, sehingga aku harus tinggal di sana dan membuatku jarang sekali pulang ke rumah.

Ketika aku masih kecil aku sudah tertarik dengan keberadaan tetanggaku yang bernama bude Inem. Dia adalah janda yang memiliki dua anak dan berumur sekitar empat puluh sampai lima puluh tahunan. Tubuhnya tidaklah seksi sepert artis namun tubuhnya kalau digambarkan seperti Nunung Srimulat. Badannya sama besarnya dengan Nunung dan yang membuatku terkesima adalah bentuk pantatnya yang bulat besar dan sering kuperhatikan ketika ia menjemur celana dalamnya yang berukuran besar-besar. Meskipun demikian namun bagiku ia sangatlah seksi dan sudah meracuni otakku ini untuk selalu membayangkan menikmati isi dari celana dalamnya itu.

Ia memiliki dua orang anak dan mereka sebaya denganku. Saat aku masih kecil dan sering bermain dengan anaknya tersebut aku terkadang juga sudah terangsang dengan gerak-gerik bude Inem. Namun demikian pikiranku tidaklah kebablasan karena aku masih kecil dan bude Inem adalah ibunya temanku tersebut. Saat menginjak kelulusan SMA kedua anaknya merantau dan sekaligus transmigrasi ke Kalimantan. Aku berpikiran kalau bude Inem juga ikut bertransmigrasi namun ternyata ia lebih memilij menetap di desaku karena sudah nyaman dan berpenghasilan cukup lumayan dari warung kecilnya. Saat kedua anaknya tersebut sudah berada di perantauan pikiranku yang dari dulu selalu kutahan selanjutnya sudah mulai kebablasan. Aku mulai memiliki ide-ide nekat untuk memuaskan rasa nafsuku terhadapnya. Terkadang aku mengintai setiap gerak-geriknya dari belakang kebun miliknya dan berharap sekali bisa mengintipnya ketika mandi.

Saat itu sehabis kelulusan sekolah aku liburan panjang dan dalam masa-masa itu aku banyak meluangkan waktu untuk mengintip aktivitas bude Inem di rumahnya. Aku sering pergi ke warungnya untuk membeli sesuatu dan saat itu aku memiliki ide yang konyol dengan menempelkan kaca di sandalku sehingga saat ia memakai rok aku bisa mengintip celana dalamnya melalui kaca itu. Hanya dengan itu saja aku sudah deg-degan dan segera melampiaskan nafsuku ini di kamar mandi rumah dengan membayangkan lekukan pantat, paha dan motif celana dalam yang ia pakai. Selanjutnya aku selalu berusaha untuk mencari ide-ide cemerlang untuk mendapatkan kenikmatan dari keberadaan bude Inem. Pikiran dan hatiku tidak sampai memikirkan untuk memberanikan diri mengajaknya bercinta atau bahkan memperkosanya. Hal itu dikarenakan mustahil bagiku dan jikalau ia menolak dan semua orang tahu akan tindakanku itu maka hancur seketika namaku dan juga nama baik keluargaku yang otomatis akan menghancurkan semuanya.

Di lain hari aku menuju ke kebunnya pagi-pagi buta sekali karena aku ingin menyelinap ke rumahnya saat ia keluar ke kamar mandi yang berada di belakang rumahnya. Waktu itu benar-benar waktu yang tepat karena di pagi seperti itu warga lain kebanyakan masih tidur atau belum mulai beraktivitas sehingga tidak akan ada orang yang melihatku menyelinap masuk ke pekarangan janda itu. Aku masuk melalui pekarangan belakang rumah karena di depan ada anjing piaraannya yang pasti akan menggonggong mengetahui kehadiranku. Setelah aku menunggu sekitar setengah jam di balik kamar mandi belakang rumah sambil merokok aku tiba-tiba mendengar seseorang menutup pintu kamar mandi dan tidak diragukan lagi itu adalah bude Inem. Aku langsung mengintip ke arah pintu rumah dan ternyata terbuka sedikit, dan langsung saja aku menyelinap masuk ke rumahnya. Aku segera bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya dan menunggu dengan deg-degan bude Inem yang akan ganti pakaian sehabis ia mandi nantinya.

Setelah beberapa saat janda itu kembali masuk ke rumah dan jantungku semaki berdebar tak sabar melihatnya ganti pakaian. Dari suara langkah kakinya terdengar kalau ia tidak menuju ke kamar, namun ia malahan menuju ke pintu depan dan membukanya. Aku merasa sedikit kecewa namun dalam hatiku tetap yakin pasti ia sebentar lagi masuk ke kamar dan ganti pakaian. Selang beberapa saat terdengar ia menutup kembali pintu dan membuatku sedikit lega. Aku masih menunggu di bawah kolong dan ternyata penantianku terasa lama sekali, karena janda itu tak kunjung masuk kamar. Aku merasa sedikit tidak tahan berada terus di bawah kolong ranjang dan dilanda rasa sedikit kecewa. Namun selang beberapa saat aku mendengar desahan-desahan kecil dari arah dapur. Pikiranku buyar karena tidak ada orang lain selain dirinya. Aku berpikir bahwa kemungkinan ia sedang bersetubuh dengan orang atau kalau tidak ia mungkin sedang bermasturbasi. Aku semakin tak tahan lagi untuk menghampiri sumber suara itu. Aku segera keluar dari kolong dan mengendap keluar kamar menghampiri arah suara itu dan ternyata berasal dari dapur. Ketika kuintip dari balik pintu dapur ternyata ada pemandangan yang luar biasa dan tidak pernah terbersit di otakku sebelumnya. Aku benar-benar melihat langsung, bude Inem telanjang bulat. Tubuhnya benar-benar semok dan membuatku tak tahan lagi untuk mengocok kontolku.

Di dapur itu ternyata ada juga anjingnya yang sedang bergerak ke sana ke mari tidak tenang. Hal yang mengagetkan dan di luar pikiranku adalah ketika janda itu kemudian mencari-cari kontol anjing itu dan kemudian mengocok dan mengoralnya. Benar-benar gila, pikirku dalam hati. Pemandangan itu malah membuatku semakin terangsang dan sempat berpikiran ingin memperkosanya namun untungnya aku masih bisa mengontrol pikiranku. Aku memiliki ide cemerlang dengan merekam semua kejadian itu dengan video kamera hp milikku. Aku segera nonaktif-kan suara hpku untuk mengantisipasi ada sms atau telpon yang masuk dan akibatnya akan mengacaukan semuanya. Segera aku arahkan hpku ke janda dan anjingnya yang sedang dirundung nafsu itu. Lama-kelamaan kontol anjing itu semakin membesar, berwarna merah dan semakin memanjang. Setelah beberapa saat bude Inem langsung mengangkang dan mengoleskan susu pada bagian memeknya. Ternyata meski sudah tua ia selalu mencukur bulu memeknya karena saat itu memeknya tampak bersih tak berbulu. Lantas anjing itu menjilati susu di memek majikannya itu. Bude Inem menggeliat merem melek saat lidah anjing itu menjilati memeknya. Ia meremas-remas panyudaranya dan menikmati setiap jilatan sambil mengerang keenakan. Lama kelamaan anjing itu semakin panik dan terus bergerak, mungkin dikarenakan ia tak tahan lagi ingin mengawini majikannya itu. Setelah bude Inem bangkit dan menungging anjing itu dengan cepat menaikinya dan mengarahkan penisnya ke memek janda itu. Aku melihat pantat bulat kenyal yang menghiasi pikiran-pikiran mesumku semenjak dahulu itu sekarang bisa kulihat dalam posisi nungging dan terlihat memeknya. Aku semakin mengocok kontolku dan berusaha untuk tetap mengontrol otakku.

Ternyata anjing itu agak kesulitan memasukkan kontolnya. Namun kemudian majikannya yang sekarang menjadi anjing betinannya itu dengan lihai memegangi kontolnya dan mengarahkannya masuk ke dalam memeknya. Setelah sedikit masuk, anjing itu langsung memompa keras dan membuat bude Inem sedikit berteriak kecil, mungkin dikarenakan sedikit sakit bercampur enak. Anjing itu semaking kuat menghajar memek majikannya itu dan yang terdengar hanya suara tepukan pantatnya yang semok. Janda itu terus mengerang keenakan sambil tangan satunya meremasi panyudaranya. Setelah beberapa saat anjing itu berhenti memompa dan tetap mendekap kencang pinggul majikannya dan kontolnya terus memepet masuk ke dalam memek. Tidak ada gerakan sama sekali dan tak selang berapa lama anjing itu mulai mencabut kontol merah besarnya keluar. Saat kontolnya keluar, terdapat banyak sekali cairan spermanya yang ikut keluar dari memek dan bude Inem terus mengerang bersamaan dengan cairan memeknya yang terus membanjir keluar. Setelah itu anjing itu menjilati kontolnya dan bude Inem terkulai lemas di lantai. Selang beberapa saat aku langsung saja bergegas keluar rumah karena takut ketahuan olehnya dengan membawa hasil yang rekaman yang tidak mengecewakan yang kelak akan menjadi senjataku untuk menjadikannya budak seksku. Cerita mengenai diriku mengerjai janda itu bisa di baca di episode berikutnya.

Musibah Ibuku, membawa nikmat bagiku

Musibah Ibuku, membawa nikmat bagiku

Namaku adalah Damar dan aku ingin menceritakan pengalaman incestku dengan menggauli ibuku kandungku sendiri. Peristiwa itu terjadi ketika aku kelas dua SMA dan aku tidak dari dulu tidak pernah berpikiran untuk menyetubuhi ibuku. Aku hidup di sebuah desa di daerah Semarang bersama dengan ayahku yang berprofesi sebagai petani sekaligus peternak sapi, serta dengan ibuku yang berprofesi sebagai bidan desa. Aku memiliki seorang kakak perempuan yang sekarang sudah berkeluarga di kota lain, sedangkan adikku masih kelas empat SD dan tinggal bersama dengan kami. Nenekku juga tinggal bersama kami namun ia sudah jompo, sedangkan kakekku sudah meninggal beberapa tahun lalu. Awalnya kami tergolong keluarga yang mampu dan kami hidup bahagia kecukupan. Namun ketika ibuku mencoba berbisnis dengan seseorang, musibah besar menimpa keluarga kami. Ayahku tidak pernah menyetujui ibuku terjun di dunia bisnis dan apalagi itu adalah bisnis besar, karena dengan penghasilan yang didapatpun kami sudah hidup kecukupan. Ibuku tetap tak mempedulikan saran ayahku sampai akhirnya musibah besar menimpanya, yaitu ketika rekan kerjanya menipunya dan melarikan diri ke luar negeri dengan membawa uangnya sebesar lima ratus juta. Bagi orang desa, uang lima ratus juta itu berjumlah luar biasa banyaknya, maklum saja ibuku terus menangis menyesali hal itu. Ibuku sering melamun dengan pandangan kosong sampai akhirnya dia sering teriak-teriak histeris. Ada yang bilang ibuku gila kesurupan ada pula yang bilang ibuku stress. Aku tidak tahu dan ikut juga menanggung beban musibah itu.

Sejak saat itu ibuku dirawat di rumah saja dan sementara tidak berangkat bekerja di puskesmas. Ibuku sering melamun sendirian di kamar, aku dan ayahku yang merawatnya. Setiap pagi aku membawakannya makanan dan minuman, sedangkan ayahku sering memandikannya. Ibuku selalu kosong pandangan dan selalu tidak menjawab jika diajak ngobrol. Ia diam membisu sepanjang hari namun terkadang ia mengajak bicara kami seperti ia sudah normal kembali. Saat itu kami mengira kalau ibuku sudah normal kembali dan kami tidak terlalu repot mengurusinya. Ayahku juga mulai normal dengan aktivitas kerjanya, dan aku menjadi tenang kalau di sekolah serta tidak terburu-buru pulang lagi. Ibuku tetap belum berniat kembali bekerja, ia sering main ke tetangga sebelah untuk sekedar berbincang. Setelah sekitar tiga hari keluarga kami kembali gempar karena ibuku membanting segala sesuatu di rumah kami. Ia membikin berantakan seisi rumah. Kami kemudian menenangkan ibuku, namu ibu terus berontak sehingga kami terpaksa membawa paksa dirinya dan mengikat tangan dan kakinya di ranjang karena ia terus berontak dan teriak. Lagi-lagi aku dan ayahku direpotkan lagi merawat ibuku selain juga merawat nenekku yang jompo. Rumahku menjadi seperti rumah sakit saja, dan adikku hanya bisa bermain-main tanpa beban.

Hari besoknya, pada malam hari Ayahku bersama dengan pamanku berencana menemui orang pintar di desa seberang untuk meminta bantuan perihal keadaan ibuku itu. Aku dipasrahi untuk menjaga rumah dan keluarga sampai tengah malam nanti. Ketika jam delapan malam adikku sudah terlelap dan di kamar ibuku tak ada suara sedikitpun. Setelah menengok nenek yang ternyata sudah tidur di kamar sebelah, aku segera menuju ke kamar ibuku untuk menengok keadaanya. Ketika masuk ke kamarnya, lampu masih belum dinyalakan dan ketika kunyalakan kulihat ibuku yang duduk dengan rantai besi yang masih mengikat kedua kakinya. Ibuku benar-benar sudah hilang akal, ia bahkan tidak membenahi roknya yang tersibak ke atas sehingga kelihatan celan dalamnya. Aku mendekat ibu bermaksud membenahi roknya yang tersibak. Ketika itu tanganku bersentuhan dengan kulit pahanya dan aku sekejap merasakan hal aneh pada diriku. Aku berusaha mengajak berbicara ibuku tapi ia hanya diam saja. Aku membimbingnya rebahan dan bermaksud menyeka tubuh ibuku dengan air hangat karena ayahku lupa tidak memandikan ibuku tadi sore. Aku bilang kepadanya aku mau menyeka tubuhnya biar badannya tidak lengket dan enak buat tidur. Ia hanya diam saja dan aku melepas kaos yang dipakainya serta roknya sehingga ia hanya mengenakan kutang dan celana dalam saja. Aku merasa aneh karena aku bernafsu melihat ibuku yang hanya mengenakan cawat dan kutang. Aku terus menyeka seluruh badan ibuku dan kurasakan lembut kulitnya serta ketika menyeka dibagian pantatnya pikiranku berubah menjadi tidak normal lagi, aku semakin bernafsu. Aku tidak mau menyetubuhi ibuku karena takut, maka lebih baik aku beronani saja nantinya di kamar mandi. Aku segera menuju kamar mandi tanpa lebih dahulu memakaikan ibuku baju atau daster. Ketika di kamar mandi pikiranku berkecamuk dan entah ada apa aku tidak mau beronani dan ingin mencicipi tubuh ibuku.

Ibuku sudah berumur empat puluh lima tahun dan badannya ramping tetapi panyudaranya luar biasa montok dan pantatnya bahenol. Kulitnya putih namun sedikit sudah kendur tetapi tetap kelihatan cantik. Ketika aku masuk ke kamar lagi, kudapati ibuku berposisi miring ke samping dan hanya terlihat pantatnya yang indah dibalut celana dalam renda merah dan kutang pasangannya. Aku semakin bernafsu melihat pemandangan itu dan langsung saja aku matikan lampu dan kunci pintu. Aku segera melepas pakaianku dan hanya memakai celana dalam dengan burungku yang sudah tegak. Aku mendekap tubuh ibuku dari belakang dan ibuku hanya diam saja. Aku menggesekkan batang kemaluanku ke pantat ibuku dan rasanya sungguh membuat jantungku copot. Aku mengelus-elus seluruh tubuh ibuku dan ketika tanganku kuselipkan ke celana dalamnya ia berontak dan berusaha mengeluarkan tanganku. Aku tetap saja melawan ibuku sampai akhirnya ibuku teriak keras. Aku saat itu yakin kalau ia tidak mengenali aku karena pikirannya yang sudah stress. Aku menutupi mukaku dengan masker biar ibuku tidak mengenal aku karena kupikir gampang untuk mengelabuhi orang yang sudah sedikit terganggu pikirannya seperti itu. Aku langsung menyumpal mulutnya dengan kain seka sehingga ia tidak lagi bisa menjarit. Tangannya terus berontak, dan makanya aku ikat ke atas dengan kain jarik. Ia sudah tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa melotot geram dan meludahiku.

Aku buka kutangnya dan meremas-remas panyudara besar itu. Aku sedikit mengeluarkan mulutku dari balik masker yang masih kupakai dan menetek ke susu ibuku seperti ketika aku masih bayi. Ibuku menggeliat dan aku yakin dia juga merasa keenakan. Setelah puas memainkan teteknya aku bergerilya ke bagian pinggangnya. Aku pelorotkan celana dalamnya dan dia tetap berontak dengan suara jeritannya yang tak terdengar karena telah kusumpal dengan kain pel tadi. Aku lihat memek ibuku dibalut dengan rambut kemaluan tipis dan aku memaksakan jariku untuk menerobos masuk liangnya. Ibuku seakan merapatkan kakinya namun aku terus berusaha merenggangkan pahanya dan akhirnya tanganku berhasil menerobos masuk liangnya. Setelah itu aku merasakan untuk pertama kalinya sensasi hangat, lembut dan halus memek wanita untuk pertama kalinya dan itu milik ibuku kandungku sendiri. Semakin cepat aku menggerakkan kedua jariku keluar masuk lubang memeknya, semakin ganas nafsuku dan tidak sabar lagi untuk menusukkan batangku ini ke dalamnya.

Setelah berapa lama ibuku mengeluarkan cairan-cairan basah dan setelahnya ia hanya diam pasrah. Aku dengan segera langsung menancapkan batang kemaluanku ke dalam memeknya yang telah basah sehingga dengan mudah aku bisa menerobosnya. Benar-benar sensasi luar biasa yang membuat tulang sumsumku menggigil keenakan. Ibuku semakin menggeliat keenakan dan akhirnya kuputuskan untuk melepas sumbat yang ada di mulutnya karena aku juga ingin mendengar rintihannya. Ternyata dia menikmati permainanku dan semakin kutancap kencang sehingga membuat ekspresi wajahnya tak karuan. Aku terus menindih ibuku dan segera kulumat bibirnya sambil terus menggoyang pukinya. Aku sudah tak tahan dan akhirnya cairan spermaku muncrat banyak ke dalam liang memeknya. Ibuku mendesah keenakan dan badannya menegang kemudian ia juga mengeluarkan banyak cairan dari liang vaginannya. Setelah jeda beberapa saat aku berbaring di sampingnya dan ia tetap tidak berekspresi malahan tertawa kecil di sampingku. Aku berpikiran mungkin ibuku sudah gila dan tidak ingat dengan diriku.

Aku beranikan diriku untuk membuka maskerku agar ia benar-benar tahu kalau aku Damar anaknya sendiri. Hal itu kulakukan karena malahan membuatku semakin bernafsu menyetubuhinya. Setelah kubuka maskerku aku memberitahunya kalau aku damar dan aku ingin menyetubuhinya setiap hari. Aku melepaskan semua ikatannya karena aku tahu dia sekarang dalam posisi keenakan jadi tidak mungkin berbuat macam-macam. Saat dia duduk aku angkat sedikit tubuhnya dan aku pangku sambil memasukkan penisku ke arah lubang vaginannya. Aku bersandar di tembok dan kubimbing dirinya untuk bergerak naik turun. Awalnya susah banget membimbingnya, namun lama kelaman ia bergoyang sendiri mengoyak penisku. Aku mendapati kenikmatan yang luar biasa dan terus memeluknya dengan erat dari belakang sambil terus meremas tetaknya. Tak lama kemudian cairan spermaku muncrat untuk kedua kalinya dan aku benar-benar puas dan lemas. Setelah itu aku tidur berbenah dan segera membersihkan tubuh ibuku dari spermaku. Aku memakaikan seluruh pakaiannya dan ketika aku mengikat lagi kedua kakinya dengan rantai ia teriak-teriak namun aku cuek saja. Setelah larut malam akhirnya Bapakku pulang membawa jampi-jampi dari orang pintar. Dalam hati aku mengharap ibuku tidak sembuh biar aku bisa menyetubuhinya setiap hari namun di sisi lain aku ingin dia cepat sembuh.

Aku melakukannya ketika ayahku sedang pergi keluar dan suasana rumah sepi. Namun ketika kondisi ibuku sudah berangsur-angsur pulih dan bisa sedikit berkomunikasi meski agak kurang jelas dan membingungkan aku tidak berani lagi mengerjainya karena takut kalau dia sadar akan perbuatanku. Setelah itu aku sudah tidak pernah mengerjainya lagi sampai akhirnya ibuku sembuh total dan kembali kerja. Seakan dia tidak sadar betul orang yang telah mengerjainya dan mungkin ia hanya memendamnya dalam hati atau ilusi. Akupun juga tidak tahu dan hanya dia yang merasakannya. Terkadang aku bernafsu kalau mengingat kejadian itu dan hanya kulampiaskan dengan beronani saja.

Ibuku Nafsu Pertamaku II

Part II

Aku diskhitan ketika aku menginjak umur tiga belas tahun dan lanjut ke SLTP. Setelah rasa perih akibat dikhitan aku mendapatkan imbalannya, yakni burungku semakin gagah dan membesar. Aku melanjutkan sekolah ke kota yang jauhnya kira-kira dua belas kilometer dari rumahku. Pergaulanku semakin luas dengan bermacam-macam teman dari daerah maupun di sekitar kota itu. Aku mulai mendapati hal-hal yang baru. Rata-rata teman sebayaku adalah anak-anak yang baru menginjak dewasa. Aku bergaul dengan anak-anak yang di kalangan sekolah dikenal sebagai kumpulan anak bandel. Obrolan mereka sering sekali berbau mesum dan aku semakin senang sekali dengan mereka karena ketika SD aku tidak pernah sedikitpun berbicara tentang hal-hal demikian dengan teman-temanku. Saat itu aku juga sudah mulai mengenal onani untuk memuaskan nafsuku kalau terpaksa tidak ada pelampiasan. Saat itu cairan spermaku juga mulai banyak dan semakin nikmat dan menggelora gairah seksku.Mereka sering mengobrolkan anak-anak perempuan sebaya maupun kakak kelas yang cantik dan badan mereka sudah mulai tumbuh dewasa. Mereka sering juga mengintip siswa-siswa perempuan tersebut sehabis olahraga di ruang ganti maupun di toilet. Aku tidaklah begitu tertarik dengan bahan obrolan mereka tersebut. Namun ketika mereka mulai mengobrolkan guru-guru kami yang cantik dan bahenol aku mulai tertarik. Kadang kami selalu membayangkan hal-hal jorok tentang guru perempuan kami. Aku selalu membahas bu Wati guru PPKN kami. Bu wati badannya tinggi seksi dan berpantat semok kesukaanku. Aku selalu mengintip celana dalamnya dari bawah meja sewaktu ia mengajar.

Pada waktu itu sudah beberapa bulan aku belajar di sekolah yang baru. Aku sudah mulai berani membolos sekolah. Ketika itu setelah istirahat aku dan teman-temanku berencana membolos pelajaran dan segera mengambil tas dan buku kami di kelas untuk selanjutnya bergegas melompat keluar pagar sekolah. Kami berniat demikian karena seorang teman kami yang bernama Rian tinggal tidak jauh dari sekolahan mengajak kami menonton film porno di rumahnya. Aku yang sama sekali belum pernah menonton orang berhubungan badan, langsung saja tertarik dan ikut ke rumahnya. Kami sengaja membolos karena pada saat jam-jam pelajaran rumah Rian sepi karena kedua orangtuanya PNS dan pulang kerjanya sama dengan kami yakni jam setengah dua siang. Beruntung Rian anak tunggal, jadi tidak ada yang akan mengusik kami menonton sampai jam dua. Jam sembilan pagi kami keluar membolos dan kemudian di rumah Rian kami langsung saja menonton film porno itu. Aku sangat terperangah melihat adegan-adegan seks di film itu. Aku suka sekali karena yang main adalah bule-bule yang berbadan bongsor. Burung di dalam celanaku tidak pernah kendur, tegak menantang sejak dari pas pertama film diputar. Sambil menonton dan berimajinasi mereka mengobrolkan hal mesum tentang cewek-cewek di sekolah. Berbeda dengan mereka, dalam otakku hanya terbayang pikiran untuk segera bersetubuh dengan ibuku. Aku usdah tidak tahan lagi mengeluarkan sperma yang tertahan ini. Aku ijin Rian untuk ke kamar mandi. Kamar menuju ke kamar mandi yang ada di belakang rumah dan saat melewati ruang tamu aku melihat ada foto ibu dan bapak Rian. Ibunya ternyata cantik dan terawat, bersih dan berseragam PNS rapi. Sepintas ibunya mirip dengan artis Lidya kandung dengan perawakan yang hampir sama juga tinggi dan posturnya. Wah kalau ibuku di rumah tidak pernah dandan seperti itu, hanya biasa saja namun aku juga tidak tahu kenapa aku selalu bernafsu dengan dirinya. Aku mulai berpikiran jorok tentang ibu Rian dan tidak sabar ingin melihatnya langsung. Niat aku ke kamar mandi bukanlah untuk kencing tetapi untuk beronani. Sesampai di kamar mandi aku mendapati ada banyak tumpukan cucian kotor. Aku langsung berpikiran kotor mencari-cari kali aja ada celana dalam kotor ibu Rian. Setelah kucari-cari ternyata ada dua celana dalam putih bunga-bunga milik ibu Rian dan aku sangat gembira sekali. Aku ciumi bau celana dalam itu, ada sedikit bau-bau pesing yang semakin membuat aku bernafsu. Aku bayangkan wajah ibu Rian yang baru saja aku lihat di foto sambil mengocok kontolku dan berfantasi menyetubuhi ibu cantik itu. Tidak berapa lama cairan spermaku sudah diujung dan segera kutempelka celana dalam itu ke ujung kontolku sambil membayangkan spermaku kumuncratkan di vagina ibunya Rian. Tak berapa lama spermaku keluar juga banjir membasahi celana dalam itu. Aku sangat puas sekali dan segera keluar toilet sambil menyelipkan celana dalam yang sudah basah itu jauh ke tengah tumpukan cucian agar tidak ketahuan.

Setelah selesai menonton aku segera pulang ke rumah. Di rumah bayanganku tentang wanita di film itu dan bayangan ingin segera bertemu dengan ibu Rian berkecamuk di pikiranku. Semakin aku bayangkan semakin aku bernafsu lagi dan ujung-ujungnya pikiran untuk segera menyetubuhi ibuku seperti di film porno tadi semakin menjadi. Lagian rumah juga semakin sepi karena saat itu aku hanya tinggal bersama dengan ibu saja. Kakakku sudah bekerja merantau ke kalimantan selepas lulus dari SMA. Ayahku juga sering mendapat pekerjaan berbulan-bulan di lain kota sehingga dia jarang sekali pulang ke rumah. Pikiranku berkecamuk sekali memikirkan cara apa yang harus kugunakan agar bisa bersetubuh dengan ibuku. Terkadang sering terbesit pikiran untuk memukul ibuku dari belakang dan setelah membuatnya pingsan aku bisa menyetubuhinya. Namun dari dalam hati aku juga merasa khawatir karena takut salah pukul dan membuat ibuku mengalami hal terburuk dan fatal. Hal yang menyulikanku lagi ketika itu setelah dikhitan aku dibuatkan kamar sendiri dan tidak lagi tidur bersama dengan ibuku. Aku juga takut untuk menyusul ibuku ke kamar  walaupun demi untuk bisa memuaskan nafsuku dengan pantatnya seperti ketika aku masih SD.

Aku tidak mau dan malu untuk curhat tentang hal ini dengan teman-temanku karena aku akan melakukannya dengan ibuku sendiri. Saat aku bertanya dengan temanku tentang bagaimana cara untuk menyetubuhi orang dan tidak ketahuan, temanku memberi ide dengan memberikan obat tidur. Aku sempat gembira sekali mendengar itu namun hal itu hanya sia-sia belaka karena tidaklah mudah untuk mendapatkan obat tidur apalagi bagi kami yang masih seumuran belum dewasa. Aku selalu pulang dengan kecewa namun aku juga masih sering-sering mengintip ibuku mandi dan kemudian beronani dengan celana dalamnya. Aku melakukan itu selam bertahun-tahun dan berusaha melupakan niatku yang telah terpendam bertahun-tahun itu. Aku juga sudah sempat bertemu dengan ibu Rian yang memberikan fantasi baru terhadapku. Aku mulai sering ijin untuk tinggal di rumah Rian dan mencari-cari kesempatan untuk bisa mengintip bagian  tubuh ibu Rian. Pikiran untuk menyetubuhi ibu Rianpun muncul persis seperti pikiranku terhadap ibuku. Namun hal tersebut semakin membuatku tambah kecewa saja karena hal tersebut lebih mustahil.

Sewaktu aku berada di rumah aku mendengar berita kalau tetangga kami keracunan memakan tumbuhan yang namanya aku rahasiakan. Tetanggaku itu kemudian dibawa ke rumah sakit dan setelah beberapa hari aku dan ibuku menjenguknya di rumah sakit. Ternyata dia hanya tidak sadarkan diri untuk beberapa jam saja dan katanya itu terjadi setelah memakan tumbuhan itu. Sepintas langsung terbersit pikiran kotor diotakku. Aku ingin sekali mencari tumbuhan itu dan mencampurnya ke dalam makanan ibuku. Pikirku itu tidaklah terlalu berbahaya jika hanya sedikit saja. Kebetulan setelah sempat beberapa bulan ayahku berada di rumah, saat itu ayahku telah pergi lagi ke lain kota dan jarang pulang karena ada proyek besar di semarang.

Esok harinya setelah pulang sekolah aku langsung pergi ke daerah perladangan untuk memburu tumbuhan itu. Tidak sia-sia, setelah beberapa saat akhirnya aku menemukannya dan bergegas pulang. Ketika itu ibu sudah menginjak petang dan ibuku memasak sayur sop dan itu kebetulan sekali karena nantinya aku bisa mencampur tumbuhan itu ke sayur. Aku segera ke belakang dan menumbuk tanaman itu untuk kuambil sarinya. Saat kami makan berdua di depan televisi aku pura-pura meminta ibuku membuatkanku sambal soalnya sayur sop kurang lengkap tanpa sambal. Setelah sedikit merengek akhirnya ibuku menaruh piringnya yang baru sedikit dimakan di meja depan televisi dan menuju ke dapur membuatkanku sambal. Aku langsung saja mencampurkan sedikit saripati tumbuhan itu ke dalam piring nasi dan sup ibuku. Setelah beberapa menit ibu kembali dengan sambal dan kami melanjutkan makan. Ibuku tidak merasa aneh dengan rasanya, mungkin saripati tumbuhan itu tidak ada rasanya karena aku juga belum pernah merasakannya, atau mungkin sudah tidak berasa karena sudah bercampur dengan nasi dan lauknya.

Tak berapa lama kemudian ibuku berkata kalau ia merasa pusing. Ia segera menuju ke tempat tidur dan setelah aku tunggu beberapa menit ternyata tidak ada suara apapun. Aku pura-pura memanggil ibu namun tidak ada jawaban. Aku berjingkrak kegirangan karena itu tandanya ibuku sudah tidak sadarkan diri. Aku menghampiri ibuku dan berpura-pura memanggil ibuku sambil menyentuh pipinya. Ternyata ia benar-benar sudah tidak sadarkan diri dan langsung saja aku membuka semua pakaianku dan bertelanjang bulat. Aku matikan seluruh lampu rumah dan hanya menghidupkan lampu meja di sebelah ranjang. Hatiku berdebar keras kegirangan sambil melucuti pakaian yang dikenakan ibuku. Setiap momen melucuti pakaian itu aku nikmati dengan benar-benar, ada perasaan nikmat khusus yang aku dapatkan. Mula-mula aku cium bibirnya sambil kulepas kancing bajunya beserta kutangnya. Kulihat panyudaranya yang besar  yang selama ini luput dari perhatianku dan ternyata tidak kalah menariknya dengan pantat yang selama ini memabukkanku. Setelah itu aku pelorotkan rok longgarnya dan untuk pertama kalinya aku pelorotkan dengan penuh nafsu celana dalamnya. Aku ciumi seluruh badan ibuku dari ujung kaki sampai kepala. Aku lebarkan sedikit pahanya dan kulihat vagina dengan rambut yang baru dicukur itu depat di depan mataku. Aku jilati puki ibuku tempat aku lahir dahulu. Ibuku sedikit bergerak dan itu membuatku kaget namun tidak berlanjut lagi, dan itu mungkin dia juga merasa keenakan. Aku tak sabar lagi ingin menancapkan kontolku ini ke pukinya. Dengan pelan-pelan aku masukkan kontolku yang mengacung itu dan agak sedikit susah karena mungkin jarang dipakai lagi dengan ayahku. Aku seperti melayang ke surga setelah bisa masuk ke dalam lubang vaginganya. Semua rasa yang belum pernah kurasakan bercampur menjadi satu. Hangat dan lembut vaginanya semakin membuatku ingin memompanya kencang. Ibuku dengan posisinya yang terlentang hanya terdiam tanpa ekspresi ketika kutindih dari atas, dan semakin kucepatkan gerakan kontolku menjebol pukinya. Kontolku sudah terasa pengin memuncratkan spermanya, dan langsung kucabut saja karena aku ingin menghajar ibuku dengan menindihnya dengan posisi telungkup.

Aku langsung berpindah posisinya dan sedikit mendorong tubuh ibuku agar bisa ke posisi telungkup. Badanku sudah setinggi ibuku meskipun badan ibuku lebih besar. Aku agak sedikit merasa berat mendorongnya, dan ketika sudah berhasil telungkup aku melihat bokonh bulat kenyal indah itu persis di depan mataku. Aku semakin bernafsu dan segera menciumi dan menjilati pantat pujaanku sedari kecil itu. Setelah puas mencium dan menjilatinya aku sibak belahan pantatnya yang besar dan ingin sekali melihat lubang anusnya. Gundukan pantat dan anus beserta vaginannya tampak semua.Aku bagaikan terbang melayang dan segera kuarahkan lagi kontolku ke arah pukinya. Aku bergerak naik dan turun dan ketika itu aku mendapatkan sensasi luar biasa dari benturan pantatnya yang kupepet. Gerakanku yang berbenturan dengan pantat besar itu membuat bunyi seperti tepukan dan membuatku sudah tak bisa lagi membendung spermaku. Aku tidak kuat lagi dan kusemburkan seluruh spermaku di dalam lubang vaginanya. Aku merasa sangat puas sekali dan mengerang keenakan tidak peduli jika nantinya ada orang yang mendengar. Aku tidak takut ibu hamil karena didepan rumah kami sudah terpasang simbol KB jadi ibuku pasti sudah KB.

Setelah rasa puas itu aku merasakan perasaan yang aneh dan merasa bersalah. Aku segera membersihkan cairan sperma yang menempel di vagina ibu dengan selimut dan segera memakaikan kembali pakaiannya. Aku berbaring dan sedikit menyesal dengan perbuatanku. Aku juga takut kalau ibuku terjadi apa-apa akibat ramuan itu. Setelah aku tunggu sampai jam sepuluh malam ibuku ternyata sudah sedikit mengigau. Mungkin dia sudah sadar dan ketika aku pegang dirinya dan kutanya ia juga menjawab. Aku merasa tenang dan setelah merasa bersalah semalamaan dan setelah pagi menjelang pikiranku berubah lagi karena melihat pemandangan ibuku yang tidak seperti biasanya, memakai legging tipis sehingga setiap lekukan pantat kaki dan pahanya terlihat jelas. Ibuku memberitahu kalau tadi malam ia merasa pusing dan tiba-tiba saja tertidur lelap sampai pagi. Aku hanya senyum saja dan memberitahu kalau mungkin hanya kecapaian saja. Setelah aku sudah selesai bersiap-siap berangkat sekolah, aku sarapan dengan ibuku. Aku mencampurkan lagi ramuanku itu ke dalam makanannya ketika ia menoleh mengambil kerupuk yang kuminta di belakang badannya.

Tak berapa lama ia merebah di ranjang yang berada di depan televisi. Aku mengurungkan niatku pergi sekolah dan ingin segera menyetubuhi ibuku lagi. Aku segera menutup pintu serta jendela dan setelah memastikan diri ibuku telah tak sadarkan diri, aku langsung menarik dirinya namun tidak menelanjangi total dirinya. Aku tidak melepas semua pakaiannya karena aku terangsang dengan legging ketat ibuku dan ingin dia masih dibalut dengan separuh leggingnya. Aku tengkurupkan tubuhnya dan menarik kakinya keluar ranjang sedangkan bagian atas badannya masih di ranjang. Untung sekali ranjangnya tidak terlalu tinggi jadi dia bisa benar-benar nungging. Setelah itu aku pelorotkan legging ketatnya sampai separuh paha dan ternyata ia tidak memakai celana dalam. Aku ciumi dan jilati seluruh pantat anus dan vaginanya dari belakang. Gilat sekali, baunya pesing dan aroma kecing bercampur. Ibuku belum sempat mandi dan hanya cebok, padahal semalam ada bekas-bekas kering spermaku namun ia tidak sadar juga. Namun aroma itu malah membuatku semakin bernafsu dan segera kuturunkan celanaku terus langsung kuhujumkan kontolku ke dalam memeknya. Seperti anak kanjing mengawini ibu anjingnya. Aku terus mengebor dengan cepat dan kuremas pantatnya yang membuatku seketika memuncratkan lagi seluruh spermaku ke dalam pukinya. Aku sekali lagi merasakan bersalah namun aku tau kalau itu hanya sementara. Setelah beberapa saat aku naiikan lagi badan ibuku dan aku entotin dirinya dengan posisi 69 sampai akhirnya lubang memek ibuku dipenuhi cairan spermaku. Aku segera mengakhiri permainanku dan membersihkan semua sperma yang ada di memek ibu. Jariku aku masukkan ke dalam vaginanya untuk mengeluarkan sperma yang banyak menyelip di dalam. Setelah bersih aku naikkan lagi leggingnya dan menyelimutinya. Setelah ia bangun di siang hari ia kembali bertanya kenapa ia merasa pusing dan tertidur pulas lagi aku hanya menjawab mungkin kurang darah. Ibuku saking polosnya hanya percaya saja dan memberiku duit untuk membelikannya obat penambah darah. Dalam hatiku hanya senyum saja dan segera keluar membelikannya. Aku melakukan hal itu tidaklah sering karena takut akan membawa efek negatif. Aku melakukannya mungkin sekitar enam kali dan setelahnya aku sering pergi ke tempat prostitusi dan mencari wanita yang sudah keibuan. Pikiranku menyetubuhi ibuku sudah tidak terlalu menggangguku karena aku juga sudah puas pernah berhasil menyetubuhinya berkali-kali. Setelah aku masuk SMA aku minta dipindahkan ke kota lain karena takut kalau timbul lagi niatku menyetubuhi ibuku dan hanya dengan jalan memberi ramuan itu yang pasti akan membawa efek negatif ke tubuhnya. Aku membujuk orang tuaku dengan alasan biar aku mandiri dan akan berusaha mencari sambilan kerja agar tidak terlalu membebani mereka.

Aku ingin sekali melakukan hubungan seks dengan ibuku namun dalam kondisi dirinya yang sadar, jadi aku bisa merasakan ekspresi wajahnya ketika sedang bercinta. Namun hal tersebut terasa mustahil di otallu dan lebih baik aku menjauh saja. Setelah sekolah di perantauan aku memasarkan diriku ke tante girang. Aku mendapatkan kepuasan seks dengan petualanganku yang baru dan tentu saja dengan tante-tante yang berganti-ganti di mana setiap aku bercinta dengan mereka, aku selalu membayangkan mereka ibu kandungku. Pekerjaan itu aku lakukan sampai sekarang dan sangat aku nikmati. Aku sudah tidak lagi ingin memberikan ramuan itu ke ibuku semenjak pindah sekolah. Sekarang aku sudah menemukan tante-tante baru yang mengubah hidupku.

Ibuku nafsu pertamaku Part I

Ibuku nafsu pertamaku Part I

Namaku tri dan ini adalah kisah pelampiasan nafsu pertamaku. Aku hidup di keluarga yang kurang mampu di desa kecil di jawa tengah. Ibuku seorang ibu rumah tangga dan sering berjualan di pasar sedangkan bapakku seorang buruh bangunan. Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah duduk di bangku SMU. Saat ini aku berusia 20 tahun dan ingin sekali berbagi pengalaman kisah pelampiasan nafus seksku pertamaku ketika aku masih tergolong berumur sangat muda dengan ibukandungku sendiri. Sejak dari umur delapan tahun sebelum aku khitan aku sudah sering berpikiran jorok dan nafsu. Ketika aku berumur delapan tahun aku masih tidur bareng dengan ibuku dan ayahku dalam satu ranjang. Ketika malam aku sering banget memeluk tidur memeluk ibuku, dan itu dianggap ibuku wajar saja karena dipikirnya aku masih kecil dan belum baligh. Bila malam telah menjelang dan semua orang tidur terlelap aku sering tidak nyenyak tidur dan terbangun karena nafsu yang bergejolak diotakku dikarenakan aku sering bersenggolan dengan pantat ibuku yang bahenol. Aku tidur menggunakan celana kolor pendek dan ibuku sering memakai rok longgat biasa sehingga jika ia sudah terlelap roknya sering tersingkap. Jika rok ibuku sudah tersingkap maka celana dalam ibuku terlihat jelas ketat membalut pantat besarnya.

Pantat ibuku benar-benar putih bersih mulus dan bahenol. Ibuku berumur kira-kira empat puluh lima tahun, tubuhnya sedang dan sedikit chubby tapi tidak gemuk dengan rambut lurus sebahu. Jika sudah bersenggolan dengan paha dan celana dalam tipis ibuku, pikiranku buyar dan nafsu tidur menghilang digantikan pikiran jorok yang menyelimuti otakku. Bapakku biasanya sudah tidur duluan dan pulas banget serta susah banget dibangunin karena kecapaian kerja seharian buruh bangunan. Aku memastikan semuanya sudah aman dan bersiap-siap dengan trikku memepet pantat ibuku dengan berpura-pura kedinginan memeluknya. Kalau sudah berhasil memeluk aku banyak bergerak karena itu untuk memastikan kalau ibuku sudah benar-benar pulas atau belum. Jika ibuku diam dan tidak ada respon sedikitpun berarti dia sudah pulas tertidur. Kalau sudah begitu, sedikit demi sedikit dan pelan-pelan sekali aku menarik roknya terus ke atas sampai perut sehingga ibuku benar-benar terlihat seperti hanya memakai celana dalam tipis saja. Meski ketika saat itu aku masih berumur delapan tahun tapi burungku juga sudah lumayan besar biar badanku masih kecil dan lebih kecil dari ibuku.

Kalau sudah berhasil menaikkan rok longgar ibuku itu aku melepas celanaku dibalik selimut dan hanya memakai kaos saja. Burungku sudah tegak berdiri sampai mau kelihatan ujung helmnya berontak keluar dari penisku yang belum disunat. Aku tidak berani menurunkan celana dalam ibuku namun meski demikian cukup dengan itu saja aku sudah puas. Tak sabar aku ingin menggesekkan burungku ke pantat ibuku. Jika penisku sudah berhasil kutempelkan ke pantat ibuku aku memeluknya tubuhnya dari belakang dan mengelus-elus bagian paha dan pantatnya. Kelembuatn kulitnya dan kekenyalan pantatnya membuat burungku pengen cepat-cepat ejakulasi. Aku semakin memeluk ibuku dengan erat, memepet pantatnya dengan kuat dan penis mudaku mengarah ke belahan pantat besar yang dibalik celana dalam lembut itu. Tidak berapa lama kemudian aku ejakulasi dan merasakan nikmat yang luar biasa indahnya seperti terbang melayang ke surga. Jika sudah puas aku berbalik sedikit menjauh dari ibuku dan segera tidur pulas.

Ibuku biasanya bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan sekeluarga dan bersih-bersih rumah. Biasanya setelah tidur tempat pertama yang ditujuku adalah WC. Aku terkadang membuat rencana untuk bangun pagi juga untuk membuntuti ibuku ke WC. Aku pengin sekali melihat vagina ibuku serta pantatnya yang bahenol tanpa ditutupi celana dalam. Saat pertama kucoba jantungku benar-benar berdebar kencang. Wc keluarga kami tidaklah begitu bagus karena sebagian ditutupi anyaman bambu dan pintunyapun hanya dari anyaman bambu. Di pagi buta yang masih gelap aku mengendap-endap di belakang ibuku dan setelah ibuku menutup pintu WC aku mencari celah-celah pintu agar bisa melihatnya saat kencing. Klosetnya menghadap ke pintu sehingga memudahkanku melihat pukinya dengan jelas. Ia berdiri membelakangi pintu dan melepas celana dalamnya. Ia menaikkan roknya dan menurunkan cawatnya sehingga di depan mataku aku melihat pantat besar mulus ibuku tanap ditutupi sehelai benangpun. Pemandangan itu benar-benar menambah jantungku semakin berdebar. Ketika ia berbalik dan jongkok diatas kloset, untuk pertama kalinya aku melihat vagina ibuku. Vaginanya ditutupi bulu-bulu hitam yang membuatku semakin bernafsu. Aku melihat lubang puki itu deras mengeluarkan air kencing. Saat ia mengguyur kloset, aku tahu kalau ia akan bergegas keluar WC, maka dari itu aku lekas masuk ke rumah agar tidak ketahuan ibuku. Aku langsung balik ke tempat tidur agar semuanya tampak normal.

Setelah matahari terbit semua anggota keluarga sudah siap dengan aktivitasnya masing-masing. Setelah sarapan kami pergi beraktivitas masing-masing dan rumah kosong. Kakakku dan aku pergi ke sekolah sedang ibuku pergi ke ladang dan ayahku bekerja buruh bangunan ke kota. Aku memang tidak tertarik sama sekali dengan perempuan muda, aku lebih tertarik melihat wanita-wanita yang sudah berkeluarga. Ketika aku masih SD aku sering sekali mengintip guru-guru wanitaku yang cantik ketika mereka di toilet. Aku memiliki seorang guru bernama bu Sri. Wajahnya begitu cantik dan badannya bahenol. Aku sering tidak konsen jika diajar olehnya karena selalu membayangkan mesum dengannya. Aku tidak berani berbuat kurang ajar kepada dirinya karena aku masih kecil dan rasa takut kepada guru itu masih kental sekali. Aku hanya bisa mengintipnya kalau ia sedang di toilet atau berpura-pura menjatuhkan pensil agar bisa mengintip celana dalamnya dari bawah meja.

Jika sehabis mata pelajaran ibu Sri pasti aku pulang sekolah dengan kondisi yang bernafsu sekali. Karena aku masih SD aku pulang paling awal diantara keluargaku dan selalu mendapati rumah dalam keadaan kosong. Kalau sudah sampai rumah aku hanya berharap ibu cepat pulang dari berjualan di pasar agar aku bisa pura-pura mencuri-curi kesempatan menempelkan burungku ini ke pantatnya. Ayahku selalu pulang paling sore dan kakakku biasanya pulang malam karena mampir main-main. Sambil menunggu ibu pulang aku pasti menuju ke toilet mencari celana dalam kotor ibuku di tumpukan cucian kotor. Aku suka sekali mencium-cium cawat kotor ibuku dan berpikiran menyetubuhi dirinya. Kalau ibuku sudah pulang aku berbunga-bunga sekali karena aku tidak sabar untuk menawarkan diri untuk memijat dirinya. Ibu sangat gembira kalau aku ingin memijitnya. Aku selalu meminta ibuku tengkurup karena aku ingin memijat punggungku agar bisa duduk diatas pantatnya. Setelah cukup lama memijat ibuku aku sedikit merasa capek dan merebah kesamping ibuku sambil pura-pura memeluk tubuhnya. Padahal aku menikmati sekali setiap kenyal tubuhnya. Kalu sudah dipijit ibuku biasanya tidur dalam posisinya yang masih tengkurup. Dalam posisiku yang masih sedikit memeluk ibuku itu aku berusaha memastikan kalau ibuku sudah pulas. Kalau sudah pulas, kutarik pelan-pelan rok longgar ibuku sampai celana dalamnya terlihat jelas. Sesudahnya aku menaiki tubuh ibuku dan kontolku tepat diatas gundukan pantatnya yang halus meski masih bercawat. Ibuku tidak merasa terganggu tidur karena tubuhku masih ringan seukuran anak SD. Aku tidak berani melepas celana dalamku dan hanya berani mengeluarkan burungku saja melalui resleting celana merah SDku yang masih kupakai. Lagi-lagi tak berapa lama aku mendapat kepuasan yang luar biasa dari pantat besar ibuku. Itulah surgaku ketika aku masih kecil dan aku melakukannya dengan trik-trik jituku. Ketika aku sudah menginjak dewasa aku kemudian dikhitan dan itu membawaku ke dalam level seksku yang lebih tinggi layaknya pria-pria dewasa. Namun masih saja aku tidak begitu tertarik dengan perempuan-perempuan lain selain ibuku. Ibukulah yang paling membuatku bernafsu karena dialah yang yang pertama kali membuatku bernafsu dan dari dialah untuk pertama kali aku dikenalkan dengan nikmat luar biasa yang membuatku selalu ketagihan ini. Cerita seksku denga ibuku ini terus berlanjut dan mengarah ke level seksku yang semakin menjadi dan berhasrat sekali untuk bisa bersetubuh dengan ibuku serta memasukkan penisku yang semakin gagah ini ke dalam lubang vaginanya, layaknya hubungan suami istri. Sejak saat pikiran itulah yang selalu mengganggu otakku dan aku pasti akan melakukannya entah dengan bagaimanapun caranya. Sampai pada akhirnya aku bisa menyetubuhi dirinya layaknya suami istri. Aku akan menceritakan cerita ini di bagian selanjutnya….